Optimisme Bisnis Membaik, Marein Antisipasi Lonjakan Klaim
Jakarta, Investor.id – PT Maskapai Reasurasi Indonesia Tbk (Marein)
mencermati dan mengantisipasi dinamika yang terjadi seiring ditemukannya varian
baru virus Covid-19 di Indonesia. Dampak Covid-19 sudah dirasakan industri
asuransi dan reasuransi sepanjang 2020. Memasuki tahun 2021, ada harapan besar
dengan perbaikan kondisi ekonomi melalui progam vaksinasi yang secara gencar
dilakukan pemerintah.
“Sebenarnya tanda-tanda perbaikan bisnis dan menuju arah positif sudah
terlihat di awal tahun, tapi begitu memasuki Februari dan Maret ditemukan
varian baru virus Covid-19 yang ternyata juga sudah menjalar ke Indonesia.
“Kami selalu membuat strategi, tapi siap mengantisipasi perubahan-perubahan
akibat pandemi. Dampak pandemi terus kami pantau,” ujar Presiden Direktur
Marein Yanto Jayadi Wibisono dalam Paparan Publik Marein secara virtual di
Jakarta usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (16/6).
Dikatakan Yanto, arah positif itu terlihat dari pertumbuhan bisnis Marein
hingga kuartal pertama tahun ini. “Premi ada peningkatan sekitar 6%, laba juga
ada kenaikan sekitar 21%, yang disebabkan hasil investasi yang naik 20%,”
tuturnya.
Kendati sudah terlihat ada pertumbuhan, Marein, kata Yanto, akan terus
mencermati perkembangan Covid-19 dengan mulai merebaknya varian baru serta
jumlah penderita positif yang menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan
terakhir terhadap dampak ekonomi dan bisnis tahun ini. Selain faktor pandemi
yang belum mereda, Marein pun mengantisipasi beberapa hal yang bisa berpengaruh
terhadap kinerja perusahaan tahun ini. Pertama, terkait tren kenaikan klaim
kematian yang terjadi di asuransi jiwa. Angka klaim yang dilaporkan Asosiasi
Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) beberapa waktu lalu menyebut ada kenaikan 62%.
Pengajuan klaim asuransi jiwa tersebut kemungkinan masuk ke reasuransi pada
kuartal dua dan tiga.
Hal kedua, yang dicermati terkait dengan asuransi kredit. Selama beberapa
tahun terakhir ini klaim asuransi kredit terus meningkat sehingga reasuransi
terdampak pula dalam pembayaran klaimnya. “Kami mengamati dengan serius tentang
asuransi kredit, mudah-mudahan ceding company sudah mengantisipasi dari sisi
risk-nya, potensi beban asuransi kredit masih ada tahun ini, karena asuransi
kredit itu berjangka, tidak hanya satu tahun,” tuturnya.
Kendati ada hal-hal yang perlu diantisipasi, secara umum Yanto optimistis
hingga akhir tahun akan ada perbaikan dari sisi pertumbuhan ekonomi sehingga
bisa mengerek pendapatan premi reasuransi. Di sisi lain, investasi masih
cenderung flat.
Kinerja 2020
Pertumbuhan bisnis reasuransi sepanjang tahun 2020 mengalami penurunan
sejalan kondisi bisnis asuransi yang sedang menurun. Pandemi yang melanda sejak
Maret 2020 menjadi alasan utama kinerja industri reasuransi tidak sebagus tahun
sebelumnya. Hal ini dialami Marein yang dalam beberapa catatan kinerja keuangan
menurun. Direktur Kepatuhan Marein Tamara Arista Salim meyampaikan, premi bruto
turun 3,9% dari Rp2,7 triliun menjadi Rp2,6 trliun. Hasil underwriting turun
45,0% dari Rp161,1 miliar menjadi Rp88,6 miliar. Hasil investasi juga turun 10,1%
dari Rp129,3 miliar menjadi Rp116,3 miliar. Penurunan ketiga komponen tersebut
berimbas kepada laba tahun berjalan yang turun 41,3% dari Rp179,3 miliar
menjadi Rp105,2 miliar. Kendati ada penurunan dari sisi capaian bisnis, secara
kesehatan perusahaan (risk based capital/RBC), Marein justru mengalami kenaikan
dibandingkan tahun 2019, dan menjadi 358,5% (konvensional), dan 327,2%
(syariah).
Direktur Utama Marein Yanto Jayadi Wibisono menuturkan, Penurunan hasil
underwriting, Yanto menyebut salah satu sebab karena Marein mendapat bagian
pembayaran klaim dari banjir Jakarta di awal Januari 2020, dan dampaknya
terhadap pembukuan 2020. “Itu menyebabkan hasil underwriting turun. Selebihnya
memang ada klaim-klaim termasuk klaim Covid-19,” imbuhnya. Adapun strategi yang
dilakukan perusahaan dalam mempertahankan bisnis selama pandemi 2020 juga
dilakukan untuk menghadapi tahun 2021. Di antaranya meningkatkan kualitas SDM,
menyempurnakan sistem manajemen risiko melalui three lines of defense,
manajemen arus kas, dan peningkatan cadangan, serta menyempurnakan sistem
teknologi informasi dan digitalisasi.
RUPST menyetujui, sebesar 24,6% atau Rp25,9 miliar dari laba bersih yang dibukukan perusahaan senilai Rp105,2 miliar ditetapkan untuk pembagian dividen, sementara sisanya sebagai laba ditahan. Pada kesempatan tersebut juga RUPST menyetujui perubahan susunan pengurus perusahaan dengan mengangkat A Dwi Ana Nurhandayani sebagai direktur keuangan. Dengan demikian komposisi direksi Marein saat ini adalah, Presiden Direktur Yanto Jayadi Wibisono (Presiden Direktur), Trinita Situmeang (Direktur/Direktur Independen), Fanra Budiman Arief (Direktur), Tamara Arista Salim (Direktur Kepatuhan), dan A Dwi Ana Nurhandani (Direktur Keuangan).
Indonesia
English