Premi Bruto Perusahaan Reasuransi Tumbuh Signifikan

PremiBrutoPerusahaanReasuransiTumbuhSignifikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah perusahaan reasuransi membukukan pertumbuhan premi yang cukup signifikan pada triwulan I/2019. Salah satunya adalah PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk. (Marein) yang mencatatkan pertumbuhan premi bruto sekitar 19,2% pada kuartal I/2019.


Wakil Presiden Direktur Marein Yanto Jayadi Wibisiono mengatakan pihaknya meraih kinerja positif pada triwulan pertama tahun ini.


Kendati belum bisa merincikan nilainya, dia mengatakan bahwa pendapatan premi pada awal tahun ini juga disokong oleh kesepakatan bisnis yang telah tercapai pada akhir 2018.


“Kuartal I/2019, premi bruto tumbuhnya 19,2%, year-on-year (yoy). Ada yang deal tahun lalu dan baru tercatat. Ada juga pemasaran produk baru,” ujarnya seusai gelaran rapat umum pemegang saham (RUPS) dan RUPS Luar Biasa di Jakarta, Kamis (23/5/2019).


Yanto mengatakan, pihaknya tetap optimistis kinerja bisnis yang lebih positif bisa dicapai emiten reasuransi dengan kode saham MREI ini. Pada 2018, Marein tercatat membukukan premi bruto senilai Rp2,2 triliun. Realisasi itu meningkat 22,7% (yoy).


Perseroan pun mampu membukukan laba bersih senilai Rp140,9 miliar. Kendati begitu, laba bersih itu menurun sekitar 12,5% (yoy).


Presiden Direktur Marein Robby Loho menjelaskan penurunan tersebut dipengeruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya, jelas dia, adanya peningkatan nilai klaim katastropik menyusul bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah pada tahun lalu. “Banyak klaim katastropik, di Lombok, Palu dan Anyer. Itu dari sisi asuransi umum,” ujarnya.


Selain itu, dia menjelaskan persaingan di industri juga kian ketat dengan kehadiran kompetitor baru. Adanya problem biaya akuisisi tambahan atau yang selama ini ramai dikenal dengan fenomena ‘engineering fee’ turut memengaruhi profitabilitas sektor asuransi kerugian.


Di sisi asuransi jiwa, Robby menjelaskan adanya peningkatan beban klaim, khususnya dari produk asuransi jiwa kredit dan asuransi kesehatan. “AJK dan health. [Klaim] di asuransi jiwa itu mendominasi,” sebut dia.


Faktor lain, sebut dia, adalah hasil investasi yang terpengaruh oleh kinerja instrumen saham pada tahun lalu. Meskipun begitu, Robby meyakini pihaknya bakal mampu merealisasikan hasil yang lebih positif pada tahun ini, baik dari sisi pendapatan premi maupun dari sisi keuntungan.


Sementara itu, perusahaan resuransi pelat merah, PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re, membukukan pertumbuh premi bruto di kisaran 10% (yoy) pada kuartal I/2019.


Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Kocu Andre Hutagalung menjelaskan realisais kinerja itu masih sesuai target yang diharapkan pada awal tahun. “Per kuartal I/2019, premi bruto kami tumuh sekitar 10% dibandingkan tahun lalu,” ujarnya pekan lalu.


Kendati begitu, Kocu mengatakan realisasi hasil underwriting perusahaan reasuransi yang digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ini masih berada di bawah target. Dia pun belum bisa merincikan terkait hasil underwriting tersebut.


Kocu menjelaskan, salah satu faktor yang cukup dominan memengaruhi kondisi itu adalah peningkatan klaim pada triwulan pertama. “Ada beberapa klaim besar, yang sebenarnya kejadiannya di 2018, tetapi baru dilaporkan pada 2019.”


Lebih lanjut, Kocu mengatakan pihaknya pun masih berupaya untuk mengejar peningkatan hasil underwriting besih pada kuartal kedua ini.


Berdasarkan laporan keuangan audited, Indonesia Re secara konsolidasian membukukan pendapatan premi bruto senilai Rp6,2 triliun pada 2018. Realisasi itu bertumbuh sekitar 7,27% dibandingkan Rp5,78 triliun pada 2017.


Hasil underwriting perseroan tercatat senilai Rp333,32 miliar atau turun hingga 15,2% (yoy) pada 2018. Kendati begitu, laba setelah pajak Indonesia Re secara konsolidasian tumbuh 30,48% (yoy) menjadi Rp200,58 miliar.


Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan pada akhir kuartal I/2019, sektor reasuransi tercatat membukukan premi bruto senilai Rp4,22 triliun. Realisasi itu bertumbuh hingga 34,4% (yoy) dari Rp3,13 triliun pada kuartal I/2018. Pada periode yang sama, klaim bruto sektor jasa keuangan ini tercatat senilai Rp1,25 triliun atau naik 15,2% (yoy).


Sumber: bisnis.com